Bakso Jamur Ikan Tenggiri

Beberapa kali sudah kucoba dan hasilnya saat kubawa ke kantor teman2 bilang enak, malah ada beberapa yang nyaranin untuk dijual😛 . Menurutku hasilnya lumayan lah so aku share saja di blog siapa tahu berguna & bisa dipraktekan buat yang suka bakso ikan.

Bahan:
1. ekor ikan tenggiri segar (berat kurleb 1kg)
50 gr Jamur kuping cincang halus
1. butir telor
250 gr. tepung sagu tani / kanji
1. sendok minyak sayur
10. siung bawang putih utuh goreng
garam, gula, merica, air putih dingin secukupnya

Alat:
Blender

Cara membuat:
1. Bersihkan ikan, ambil dagingnya, buat duri & kulit dengan cara dikerok pakai sendok
2. Masukan ikan, telur, bawang goreng, air dingin sedikit demi sedikit kedalam blender kecil haluskan sampai benar2 halus.
3. Siapkan wadah masukan ikan halus, jamur kuping, tambahkan tepung sagu sedikit demi sedikit aduk rata.
4. Tambahkan merica, garam, gula secukupnya,setelah adonan rata masukkan minyak sayur aduk lagi sampai tercampur rata.
5. Pastikan adonan bisa dibentuk seperti membuat adonan bakso sapi, jika terlalu lumer tambahkan tepung sagu
6. Panaskan air, sampai hangat2 kuku bentuk adonan bulat2 dengan cara dikepal, ambil menggunakan sendok masukkan.
7. Lakukan sampai adonan habis, rebus dan tunggu sampai bakso matang

Adonan ini bisa juga dibikin siomay, tinggal ambil kulit pangsit, kukus..

Leave a comment »

BPJS

“Don’t judge a books by its cover” yah…mau gimana lagi bukankah negeri Indonesia tercinta ini dari jaman nenek moyangku yang namanya pelayanan Pemerintah, jangankan gratis berbayar saja biasanya sangat – sangat buruk, based my true story yang seringkali menerima pelayanan buruk, ternyata sama sekali tidak seburuk bayangan awalku.
Sebelumnya kedua orang tuaku (Bapak/Ibu) aku daftarkan BPJS kebetulan aku ambilin untuk yang kelas 1 dengan premi assuransi senilai Rp. 59.500,- . Awalnya hanya untuk berjaga – jaga saja karena anak – anaknya Bapak Ibu yang bisa membantu secara finansial semuanya diluar kota, berhubung kedua orangtuaku adalah pensiunan ladang / tani maka tidak mungkinkah mengharapkan uang pensiun di hari tua😀 . Akhirnya aku & sodara2 ku sepakat untuk mendaftarkan orangtua kami program BPJS Kesehatan.
Sama sekali tidak ada harapan , maupun bayangan orangtua bakal sakit…. namun yang namanya sakit siapa juga yang mau pastinya gak ada yang mau.
Sebelum lebaran 1435H / 2014 Bapak pernah kecetit, karena Bapak memang bukan tipe kakek – kakek yang pagi – pagi duduk minum teh plus baca koran, meski sudah berumur Bapak sangat senang dengan profesi lamanya / aktifitas di ladang. Nah…ketika asyik dengan ritual ladangnya (mencangkul) tiba2 Bapak kecetit, & karena sangat sering kecetit akhirnya diremehin “besok juga sudah sembuh” kata sakti Bapak, ternyata setelah hampir 3 bulan bukannya malah baikkan malah bertambah parah.
Alhasil akhir lebaran karena bayanganku hanya kecetit/salah urat, aku bawa Bapak ke Gresik, untuk dipijat di pijat urat langganan suami. Dalam perjalanan Malang – Gresik….(aku sampai gak tega) Bapak sangat tersiksa karena tidak bisa duduk nyaman & katanya sakitnya luar biasa. Seminggu di Gresik sudah aku bawa ke RS, dr, sampai ahli syaraf tidak ada hasil, Bapak pun minta pulang untuk dirawat di Malang saja.
Dipakailah kartu BPJS yang sudah didaftarin & Alhamdulillah hari Senin masuk RST Soepraon Malang hari Rabu sudah dilakukan operasi prostat secara laser karena hasil pemeriksaan gara – gara salah urat sebelumnya saluran kemih terganggu sehingga prostat membengkak, di hari Senin minggu berikutnya Bapak diperbolehkan pulang, sebelumnya kami sudah menyediakan uang siapa tahu ada biaya tambahan, ternyata sama sekali tidak ada bayat / biaya tambahan satu rupiah pun.
Alhamdulillah ……
Semoga Bapak & Ibu selalu sehat…..

Leave a comment »

Fresh raw almond milk choco honey

images

Akhirnya kesampaian juga buat susu almond, ternyata enak banget…., anak – anak, suami juga suka banget ….😀 , berikut resepnya:

– kacang Almond utuh mentah rendam semalam / kurleb 8-12 jam

– coklat bubuk van houten 1/4 sdt

– madu secukupnya

Cara membuat :

cuci almond yang sudah direndam, jika ingin hasil yang benar – benar putih buang kulit ari nya, namun kandungan nutrisinya akan berkurang karena kulit ari kacang almond mengandung 30 antioksidan berbeda dan sangat bermanfaat bagi kesehatan, tambahkan 200ml / 1 gelas air minum, jika blender yang digunakan high speed blender almond & air dengan kecepatan tinggi kurleb 2 menit / atau sampai benar2 halus

karena aku punyanya hanya blender philips biasa, maka pertama – tama aku gunakan gelas blender kecil (yang biasa dipakai untuk hancurin kacang – kacangan ) setelah agak halus aku pindahin ke blender besar plus tambah air minum secukupnya, blend kurleb 5 menit atau lebih sampai benar2 halus, kemudian saring.

Hasil susu almond tambahkan coklat van houten plus madu sesuai selera, nyummmy susu almond choco honey siap dinikmati….enak banget lho

Leave a comment »

Bakso

Setelah lama malang – melintang praktek membuat bakso dengan resep googling & juga trial error, akhirnya berhasil juga membuat bakso yang enak, & tetep gilingnya pergi ke pasar karena ini merupakan kunci suksesnya juga. Berikut resep nya

1. daging sapi tanpa lemak 1,5kg

2. daging ayam 0,5 kg

3. tepung kanji ato sagu tani 0.5 kg

4. bawang goreng 1 ons

5. lada bubuk (aku pakai ladaku 3 bks)

6. putih telur kurleb 200gram

8. bawang putih 2 bonggol

10. garam secukupnya

Cara membuat:

untuk perbandingan daging sapi dengan daging ayam 3:1, untuk perbandingan daging total sama tepung 4:1 (2kg daging :0.5kg tepung) semua bahan aku bersihin bawa ke pasar tempat giling bakso, aku memilih mencampur daging sapi dengan daging ayam karena hasilnya lebih lembut &anak2 lebih suka, kalo hanya daging sapi hasilnya kenyal anak2 kurang suka. untuk merebus bakso rebus air dengan air yang banyak jangan sampai mendidih bentuk adonan bakso rebus sampai matang, saat air cukup panas matikan api.

cetak baso dengan digenggam tekan sehingga adonan keluar antara ibu jari n telunjuk ambil menggunakan sendok yg telah dicelup air dingin…. image image biar hasil baso nya lebih halus setelah baso agak matang nyalakan api masak baso sampai matang / mengapung. Siapkan air dingin ato air es, baso yang sudah matang tiriskan langsung masuk ke baskom berisi air dingin diamkan / rendam sampai baso dingin, air dingin membuat baso jadi kenyal…Aku biasanya kalo membuat bakso langsung banyak sekalian disimpan difrezer buat stok, karena anak2 paling suka dengan bakso dan Bunda nya kurang yakin dengan kualitas bakso2 pinggir jalan (baik dagingnya maupun penyedapnya)😀. Baru kali ini aku sukses buat bakso hasilnya enak bangettttt…..

image

Kuah Bakso :

Bahan : dengkul sapi, bawang merah, bawang putih, bonggol bawang prei, merica, garam, gula secukupnya

cara membuat : rebus air setelah mendidih masukkan dengkul, haluskan bumbu tumis sampai kecoklatan, masukkan ke air rebusan dengkul tambahkan garam & gula secukupnya, beri potongan daun prei ….. kuah bakso siap disajikan dengan taburan daun bawang & bawang goreng, lain kali aku upload gambarnya😛

Leave a comment »

Pilpres Indonesia 2014

Ibarat dua sisi mata pisau itulah kemajuan teknologi & kebebasan demokrasi saat ini, termasuk kemajuan media informasi, media sosial, media publik, siapapun bisa mengeluarkan isi hati, isi kepala, bebas… mengeluarkan pendapat, mengeluarkan opini.
Pemilu Presiden di Indonesia untuk memilih Presiden ke-7 negeri ini telah berlangsung, Alhamdullillah pada saat Ramadhan & Alhamdulillah berbarengan dengan gelaran piala dunia yang bisa dijadikan sebagai peredam & pengalih perhatian terhadap kepentingan – kepentingan yang bertujuan memecah belah bangsa, Pemilu kali ini diikuti dua pasangan capres – cawapres no. 1 Prabowo Subiyanto – Hatta Rajasa & no. 2 Joko Widodo – Jusuf Kala
Diawali masa kampanye yang berlangsung kurleb 1 bulan yang lalu, pada saat itu media sosial berisi berbagai macam kampanye hitam, saling hujat, saling caci, saling serang opini, saling fitnah, saling membuka aib jagoan masing – masing. Pada waktu itu diadakan pula acara debat capres selama 5X yang hasilnya juga semakin menambah rame media sosial.
Begitu pula media masa baik TV maupun surat kabar, saya pribadi baru menjadi yakin bahwa berita yang mereka angkat sesuai keinginan yang membayar, dulu aku kira hanya isu, kini disaat masa pemilu tidak ada satupun media masa yang netral semua menyajikan berita sepihak, kebohongan publik, pembodohan publik, dengan tujuan mengarahkan suara ke salah satu capres yang membayar mereka, tidak jarang pula gara – gara mendukung calon berbeda putus pertemanan, putus silaturahmi, saling tidak tegur sapa, puncaknya terjadi penyerangan secara fisik ke salah satu TV swasta nasional yang dianggap memihak salah satu calon sangat mirissss…….
Mental bangsa ini masih kekanak – kanakkan, sekuat apapun mereka membela jagonya bukankah masing – masing dari kita masih tetap & harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kita, silahkan berbeda seperti semboyan negara kita “Bhinneka Tunggal Ika” namun saat ini sepertinya warisan leluhur kita warisan pejuang – pejuang negeri ini yang rela mempertaruhakn segalanya termasuk nyawa untuk kemerdekaan negeri ini ternyata sudah hilang bukan luntur lagi tapi HILANG…….
Sampai dengan masa pencoblosan jika negara lain hasil quick count bisa dijadikan indikator siapa yang akan menang, di Indonesia beda masing – masing lembaga survey memenangkan timsukses capres yang membayar mereka, sampai pada masing – masing capres sudah mengumumkan kemenangannya masing – masing, betapa tidak dewasanya mereka menyikapi fenomena ini masing – masing ingin menang…… kenapa mereka tidak memperhitungkan efek dari statemen – statemen yang telah mereka umumkan terhadap stabilitas , keamanan, kedamaian negeri tercinta ini jika nanti hasil perhitungan resmi KPU berbeda, akankah tragedi tahun 1998 akan terulang lagi… berharap tidak, apalagi disaat Ramadhan semoga Allah melindungi negeri ini . Berdoa semoga siapapun yang menang dan kalah ibarat kompetisi piala dunia ada menang ada kalah, semoga yang menang bisa mengembankan amanah negeri ini membawa ke arah yang lebih baik, semoga yang kalah bisa dengan rela hati & ikhlas menerima kekalahan & tetap berjuang membangun negeri ini karena siapapun presidennya kalian adalah putra terbaik bangsa.

Leave a comment »

Bangga karena miskin & susah

Lahir dari keluarga/keturunan miskin, di suatu desa kecil dengan 4 bersaudara, sang ibu buta huruf tak pernah mengenyam pendidikan karena terlahir dari keluarga yang miskin dengan 8 bersaudara yang sejak kecil menjadi anak yatim, sang bapak ijasah SD pun tak punya karena hanya sampai kelas 4 SD. Tanpa keahlian apa yang diharapkan Bapak bekerja sebagai pekerja serabutan yang kadang keluar masuk hutan mencari kayu untuk dijual, tidak jarang pula keluarga kecil dengan 4 orang anak2 yang masih kecil itu bisa makan, jangankan makanan layak makan, bisa makan nasi saja syukur – syukur.

Dari kecil seluruh anggota keluarga bahu – membahu banting tulang demi kelangsungan hidup keluarga dengan ibu berjualan kecil – kecilan yang dipagi & sore harinya dijajakan anak – anak dari pintu ke pintu, disaat teman – teman sebayanya asyik bermain anak2 keluarga ini harus bercapek – capek membantu keluarganya, tidak ada kemewahan, tidak ada bermanja – manja, tidak ada bermalas – malasan, sepulang mengaji masih dijejali dengan setumpuk pekerjaan yang esok harinya harus dikirim ke warung – warung tetangga, ke-4 anaknya sekolah & ketika malam hari adalah waktunya seorang pelajar untuk belajar maka belajar adalah sesuatu yang mahal, karena harus menyelesaikan pekerjaan yang keesokan harinya akan dijual.

Tidak jarang anak2 sering diolok2 teman sebayanya karena kegiatan mereka, namun untungnya prestasi belajar anak2 sangat bagus rangking 1 disekolah tak pernah absen diraihnya sehingga buku2 gratis yang bagi anak2 adalah barang mewah selalu didapatnya dari sang guru karena prestasi belajarnya. Sampai anak2 beranjak besar, sang anak ke – 1 yang lulus SMP dan sempat bekerja di pabrik rokok selama 2 tahun dibawa untuk diasuh & disekolahkan oleh Saudara nya yang tinggal jauh di luar kota. Sang anak ke-2 yang memang minat belajarnya kurang bekerja di pabrik rokok, sang anak ke-3 yang waktu itu masih kelas 3 SD harus menggantikan tugas saudara2 nya untuk membantu pekerjaan orangtuanya untuk menjajakan dagangan orangtuanya, dengan resiko yang sama besar dan bahkan lebih besar karena tidak bisa untuk bergantian dengan adiknya yang selisih usia hampir 3 tahun dengannya.

Sampai beranjak besar yang waktu itu memasuki SMA rutinitas tersebut masih dilakukannya , karena orangtua hanya mampu menyekolahkan sd. SMP hampir putuslah pendidikannya untungnya sang kakak ke-1 yang sudah bekerja setamat SMU, dan karena keinginan & cita2 nya yang sangat besar untuk mengangkat derajat keluarganya. Maka diapun bertekad untuk menyekolahkan adik2 nya sampai dengan kuliah meski akhirnya tidak memperdulikan kebutuhan pribadinya. Sampai fitnah pun diterimanya demi cita – cita mulianya.

Baru setelah kedua adiknya kuliah kakak ke 1 mau menikah & berumah tangga,  sampai adik2nya  tamat kuliah serta mendapat pekerjaan layak. Kini keluarga yang dulunya adalah keluarga termiskin di desa nya kini bisa setara dengan keluarga2 yang lain bahkan lebih mapan. Karena anak2 nya kini sudah mapan. Dan kini baru terasa tempaan kesulitan hidup mulai dari kecil tersebut adalah bekal , warisan orangtuan yang luar biasa yang anak2 keluarga tersebut dapatkan sehingga kini bisa survive di kehidupan yang semakin keras & sulit ini.

*Proudly my beloved parents – sister.

Leave a comment »

Aku Ingin Ibuku Memanggilku….

copas blog sebelah …..
penting banget buat orangtua terutama saya pribadi yang selalu menginginkan buah hati seperti harapan saya….

Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.

Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun.

Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika “Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng.

“Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya

“Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit.

Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

Angka kecerdasan rata – rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek – aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160.

Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut Psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu Psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian.Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :….”
Dikapun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja”

Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di computer dan sebagainya.

Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit.

Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …”

Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu”

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika.

Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …”

Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya”

Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak : ..”
Dikapun menjawab “Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa”

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang …..”
Dikapun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”.

Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.

Dengan jawabab Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …..”,
Dikapun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”.

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari ……..”
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar ” Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku”

Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari…..”
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata “tersenyum”

Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku….” Dikapun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus”

Saya tersentak sekali ! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari kata “Tole”, kependekan dari kata “Kontole” yang berarti alat kelamin laki-laki.

Waktu itu saya merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku memanggilku ..”
Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”.

Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling” kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak.

Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice” sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”. Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat ALLAH.

Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal 23 Juli 2004, saya ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu berpikir, bersikap dan melakukan hal-hal yang dikehendaki ALLAH.

(Ditulis oleh : Lesminingtyas)

Leave a comment »