Perempuan Pakistan

Review Perempuan Suci karyaQaisra Shahraz

Setiap orang pasti akan tertarik dan penasaran dengan judulnya selanjutnya membaca sinopsisnya ternyata semakin menambah rasa penasaran untuk membaca isinya, itu jugalah hal pertama yang saya rasakan tentang novel satu ini. Sang penulis sangat pintar membangun rasa ingin tahu dari siapa saja yang menemukan buku ini. Saya menyelesaikan membaca novel ini kurang lebih 1 bulan ya memang lama, baru mengambil buku si kecil sudah merebutnya dan saya baru bisa baca setelah AL tertidur itupun dengan membuka bukunya sepelan mungkin jangan sampai bersuara karena tidak jarang AL terganggu dan bangun so ikutan lagi gangguin Bundanya baca novelūüėõ

Keseluruhan isi dan cerita novel ini sangat menarik terutama dengan tema yang digambarkan secara apik oleh sang penulis. Menceritakan kisah seorang perempuan Islam cantik jelita nan cerdas yang hidup di Pakistan, seorang wanita yang selalu mangagungkan dan memperjuangkan feminisme kaumnya, yang pada akhirnya harus mengalah dengan takdir yang menimpa diri dan keluarganya.

Dalam novel Perempuan Suci ini, berangkat dari tradisi lama Pakistan, Habib, ayah Zarri Bano, telah memaksakan kehendak pada putri sulungnya untuk menjadi seorang , yakni seorang perempuan suci . Ia tak boleh menikah, sebab telah dinikahkan dengan Al Qur’an. Ia¬†wajib membungkus seluruh tubuhnya dengan burqa hitam. Sebagai imbalannya, shahzadi ibadat ini akan memperoleh seluruh warisan keluarga berupa tanah dan sawah ladang berhektar-hektar. Tradisi ini dijalankan oleh keluarga yang tidak memiliki anak lelaki sebagai ahli waris.

Setelah kematian Jafar anak lelaki satu – satunya maka Habib hanya memiliki dua anak perempuan Zarri Bano dan Ruby. Sebelum kematian Jafar Habib adalah tipe ayah moderat. Ia menyekolahkan putri-putrinya sampai ke jenjang sarjana. Ia juga membiarkan putri-putrinya memilih jodoh sendiri. Namun dengan kematian Jafar, ia berubah menjadi seorang tiran. Dengan kekuasaannya yang nyaris tak terbantah, ia memaksa Zarri Bano menuruti kehendaknya menjadi seorang shahzadi ibadat. Ia merampas hak menikah putri sulungnya itu secara semena-mena. Dan Zarri Bano pun harus tunduk, melepaskan semua impian indahnya tentang asmara dan perkawinan bersama kekasihnya, Sikander.

Melalui novelnya ini, Qaisra Shahraz bukan saja menampilkan kehidupan sebuah keluarga muslim dan keislaman (ia mengurai soal kerudung, jilbab, dan haji), tetapi juga menggugat nasib perempuan yang kerap dipojokkan oleh tradisi, budaya, dan agama. Kaum perempuan seolah tak berhak menentukan sendiri nasib dan masa depannya.¬†Bahkan seorang terpelajar seperti Zarri Bano pun akhirnya juga kalah, tak kuasa¬†melawan¬†“takdir” yang disodorkan ayahnya.

Disini pembaca pasti berharap cerita selanjutnya Zarri Bano  akan membangkang dan tampil sebagai pahlawan emansipasi seperti R.A Kartini. Tetapi itu tidak terjadi Zarri Bano Рwalau dengan hati tercabik-cabik Рakhirnya menerima keputusan sang ayah. Tak ada yang membelanya. Ibunya hanya bisa menangis pedih. Sebagai istri yang baik, tradisi dan agama menyuruhnya patuh pada suami.

Terlepas dari itu, Perempuan Suci adalah potret buram perempuan di tengah-tengah dominasi kaum lelaki, agama, tradisi, dan budaya, telah turut mengekalkannya sejak zaman dulu hingga era modern saat ini meski dalam bentuk yang berbeda.

Selanjutnya efek dari membaca novel ini selain mengetahui budaya di Pakistan saya sangat tertarik dan ingin tahu seperti di dalam novel itukah kehidupan wanita Pakistan saat ini, setelah searching sana sini dan berita akhir – akhir ini dimana di tahun 2011 sebanyak 1000 perempuan Pakistan dibunuh hanya demi menjaga martabat dan kehormatan keluarga, mereka dibunuh karena kawin lari, diperkosa, dilecehkan, menikah tanpa restu dll, sangat miris. Saya pun mendapatkan beberapa gambaran tentang kehidupan perempuan Pakistan yang mirip dengan kehidupan wanita – wanita di dalam novel tersebut.

Di Pakistan perempuan di anggap sebagai golongan kedua dan tidak jarang kehadiran anak perempuan dianggap membawa sial, mereka tidak bisa menentukan kehidupannya sendiri untuk menikahpun wanita pakistan dijodohkan dan tidak jarang pertam kali melihat calon suaminya saat pernikahan dilangsungkan. Selain itu perempuan hanya boleh beraktifitas didalam rumah seputar mengurus suami, anak, dan bersolek sehingga tidak jarang perempuan – perempuan disana sangat suka mengurusi kehidupan orang lain. Untuk beraktifitas diluar rumah perempuan tidak boleh sendirian dan harus ditemani keluarga lelaki.

Beberapa kisah sedih wanita – wanita Indonesia yang menikah dengan pria Pakistan sebelumnya mereka kebanyakan wanita terpelajar setelah menikah dengan pria Pakistan dan diboyong suami untuk tinggal disana maka nasib merekapun sangat tragis memang tidak semua mempunyai nasib sial tapi kebanyakan seperti itu. Karena di Pakistan seorang menantu perempuan harus hidup dan tinggal satu atap dengan mertua mereka tidak boleh tinggal sendiri karena itu adalah hal yang tabu.

Apalagi budaya kita yang berbeda 180 derajat dengan budaya kehidupan perempuan Pakistan sehingga tidak jarang terjadi benturan – benturan yang menimbulkan konflik baik dengan mertua, keluarga suami, masyarakat sekitar maupun dengan si suami sendiri.

19 Responses so far »

  1. 1

    Rita said,

    Bagaimana seorang wanita Indonesia setelah menikah dengan pria Pakistan tinggal jauh dari mertua…?

    • 2

      summysmile said,

      waduh saya kurang tahu sist tulisan itu saya rangkum dari beberapa sumber hasil googling, saya tertarik setelah membaca buku tentang perempuan Pakistan, mungkin sist kalo ada referensi boleh dong dibagi…

  2. 3

    Fitri said,

    aq berpacaran dengan lelaki pakistan dan sudah menjalani selama 2 tahn,walaupun tidak pernah bertemu muka di dunia nyata tapi kami yakin bahwa hubungan kami In Shaa Allah smpai k pelaminan.yang sya tanyakan apakah memang harus setelah menikah kita harus menambahkan nama suami pada nama kita? ataukah nama keluarga suami kita?
    Terima kasih

  3. 4

    summysmile said,

    Maaf baru bls mbak Fitri, aduh maaf banget kalo masalah detail begitu aku juga kurang paham aku tertarik dengan budaya Pakistan setelah membaca novel perempuan suci dan hanya dari searching di google selanjutnya aslinya seperti apa aku sama sekali awam, namun dari beberapa blog dan pengalaman wanita2 indonesia yang menikah dengan pria Pakistan (gak semua) rata – rata mereka akan dibawa pulang ke Pakistan dan ujung2 nya ada saja kekerasan dalam RT nya ini hanya dari pengamatan saya pribadi dari hasil googling mbak jangan dijadikan acuan saran saya jika mbak memang serius lebih baik cari teman yang suaminya orang Pakistan minimal bisa sharing kebudayaan disana seperti apa, dan kalo nantinya pacar / calon suami mbak meminta mbak untuk ikut tinggal dinegaranya sebaiknya bener2 dipelajari dan dipahami dulu budaya / kultur keluarga calon suami, budaya negara sana jangan sampai mbak nanti menambah daftar panjang cerita pahit wanita 2 indonesia yang menikah dengan pria Pakistan, sekali lagi gak semua buruk.

  4. 5

    sweety19 said,

    Boleh share y?
    Mnrt pengalaman sih tdk hrs tambah nama suami ato keluarga suami, cm y sprt orang indonesia aja, ntr kl ditanya nama sprt di RS atau dtempat umum, jawabnya adalah Mrs……(nama suami). Tdk include di document gpp.
    Biasanya nama belakang suami pasti sama dengan nama keluarganya coz kebanyakan 1 marga. Kl punya anak ntr baru menambahkan nama marga yg ada dr ayahnya.
    Dipikir baik-baik mbak. Karena memang benar budayanya berbeda.
    Kl memang sudah yakin, bisa memberi hrs bisa menerima.
    Dan memang biasanya tinggal 1 rumah dengan mertua dan ipar yg lain jika kondisi keluarga dr calon suami mempunyai saudara laki-laki lebih dr 1. Tp tdk menutup kemungkinan jika ingin mempunyai rumah sendiri, terpisah dr mertua, tidak apa-apa. Sharing aja sama mertua sama suami…

    • 6

      coky alexandra said,

      mbk tanya donk….ceritakan gimana tradisi sana memperlakukan kaum wanita ? apa benar wanita tidak boleh kerja, kemana2 dan wanita disana seperti budaknya laki2 yang harus selalu patuh tanpa ada sedikit bantahan ? terimakasih

  5. 7

    Lili said,

    Mbak, saya lagi jatuh cinta sama laki-laki pakistan..
    saya di indonesia, dan dia lagi studi di finlandia
    kami berkenalan lewat facebook, dan sudah dekat sekali selam 6 bulan ini.
    kami sudah sering video call, telpon via cellular, juga sering berbagi tentang banyak hal.
    tapi saya googling kok banyk orang yg bilang semacam ini ya.. “saya tau betul orang pakistan, budaya indonesia lebih baik, sebaiknya pikir matang2 terlebih dahulu sebelum berhubungan lebih jauh dengan orang pakistan”..
    saya sudah terlanjur jatuh cinta pula
    tolong dibantu ya, mbak
    butuh banget masukan niih, terima kasih ^_^

  6. 8

    reni said,

    aku pny pengalaman pribadi nih, aku sudah pacaran dng orng pakistan sejak bulan januari 2008 ampe skrng berarti sudah hampir 6 th, awal2nya sih bahagia karna dia sepertinya bener2 sayang ama aku, bahkan dia bela2ain jauh2 dtng dari pakistan buat nemuin aku, tapi semakin lama dia semakin over protektif, semua tmn fbku yg cwo dihapusnya, aku tidak diperbolehkan berbicara dng teman kuliahku yang cwo walau pun itu hanya berbicara di telpon, cara berpakaian aku pun dia yg mengatur, aku hanya di perbolehkan memakai pakaian gamis, memakai celana jeans pun tidak diperbolehkan padahal itu bkn celana jeansnya yg ketat, dan ketika dia marah dia memaki aku dng kata2 kasar padahal hanya karna aku gk mau diajak chat jam 2 pagi karna aku ngantuk bngt. walaupun pada akhirnya dia minta maaf tapi ttp saja hal seperti itu sering terulang. Tahun dpn dia mengajak aku menikah, tapi aku malah jadi takut, blm menikah saja sudah seperti itu apalagi kalau sudah menikah, mana rencananya setelah menikah aku akan dibawa ke pakistan, kalau aku ada masalah disana siapa yang bakal nolonginūüė¶

  7. 10

    lintangsegara said,

    maaf ya mbak saya ikutan berkomentarūüôā buat coky alexandra, saya sendiri bersuami Pakistani tp kami tinggal di luar tanah air kami berdua…kebebasan kaum wanita di Pakistan memang jauh berbeda ga seperti di Indonesia…bukan berarti menjadi budaknya laki-laki tapi kondisi kultur yg berbeda juga situasi lingkungan tidak sepenuhnya mendukung pergerakan bebas kaum perempuan. Bagi org Pakistan kebanyakan, kalo istri ikut bekerja sepertinya suami tak bisa memberikan penghidupan yg layak utk mereka, makanya perempuan kebanyakan hanya jadi ibu rt meskipun sekolahnya tinggi, tapi biarpun begitu ga sedikit wanita karir di sana cuma ruang lingkupnya terbatas…seperti karir tertentu saja, macam dokter,perawat,guru bukan yg bervariasi spt di Indonesia.
    Kalau masalah patuh dgn suami, sebetulnya itu sudah kewajiban istri selama yg dipintakan sesuai ajaran agama. Sayangnya, banyak yg membuat perempuan seperti objek semata. Banyak mereka yg kurang beruntung mendapatkan pasangan dengan keluarga yg sangat mengontrol semua aktivitas dan gerak geriknya.
    Satu lagi, butuh kesiapan mental luar biasa kalau wanita asing akan menjadi istri laki laki pakistani. Di Pakistan, anak laki-laki adalah aset berharga keluarga, masih banyak keluarga yg ttp pelihara kultur asalnya India, yg meminta dowry (mahar) kpd pihak keluarga perempuan yg mau menikah dgn anak laki2 mereka. Saking berharganya anak laki, punya anak perempuan bagai bencana di sana, karna mereka harus siap2 pusing mengumpulkan harta utk dowry kelak anaknya menikah.
    Menantu perempuan pun harus siap tinggal barengan seatap dengan keluarga suaminya. keluarga pihak pria memegang kendali atas segala hal, bahkan uang belanja pun biasanya akan dipegang ibu suaminya (ibu mertua). Istri adalah nomer sekian setelah ayah dan ibu serta adik2nya.Ditambah, mengerjakan semua tugas rumah tangga di rumah in laws.
    Saran saya, bagi yg tengah relationship dgn pria Pakistani, pahami betul kulturnya…banyak yg baik karakternya, imam yg membimbing juga suami yg romantis dan setia tapi yg buruk pun tak sedikit, bahkan ada stereotype di kalangan perempuan asing khususnya warga kulit putih kalau pria pakistani berbahaya dan hanya mencari keuntungan dari relationshipnya. Karna pada kenyataannya, pakistani termasuk kaum imigran terbanyak di dunia. Mimpi ke luar dari carut marut negaranya adalah mimpi kebanyakan kaum adam di sana. Berjibun kasus, mereka cari istri asing lewat net, lalu nikah, dan apply kewarganegaraan baru demi merubah nasib. Hak memiliki 2 paspor dr pemerintahnya menjadi pelicin niat yg satu ini. Makanya banyak yg sesudah niatnya tercapai, mereka nikah lagi dgn perempuan pilihan ibunya di Pakistan. Atau bahkan malah sesungguhnya sudah beristri, tapi keluarganya sendiri menjadi bagian dari konspirasi utk menjerat perempuan asing demi mendapat paspor baru. Bila sudah terwujud, yg kerap terjadi adalah memboyong keluarganya di Pakistan utk pindah ke negara tsb.
    Semoga penjelasan ini sedikit memberi pencerahan buat yg penasaran dgn kehidupan di sana.

  8. 11

    coky said,

    mbk lintang :
    aku punya hubungan dg orang pakistan sudah dua tahun, tapi selalu saja terbesit keraguan untuk terus merajut hubungan, pasalnya dia mudah sekali marah, dan over protektif, kata katanya kadang kasar dan benar benar menyakiti hatiku………..meskipun kadang dia kirim gift ke aku dll…..
    tapi sifatnya yang tidak bisa lembut dan emotional membuat aku ragu, walau sebenarnya aku suka sama dia. tolong beri saya nasihat
    terimakasih

    • 12

      summysmile said,

      Mohon maaf Coky kalo menurutku mending jgn dilanjutkan jangankan berhubungan dg orang Pakistan yang notabene beda adat & kultur sama kita, aku saja yang saat ini sudah menikah dg sesama orang jawa & sudah dikaruniai 2 anak kenal hampir 10 th pacaran hampir 7 th yang aku & suami pikir sudah tahu luar dalam masing2 baik pribadi maupun keluarga ternyata ya masih ada saja perbedaan, memang kita menikah bukannya mencari persamaan & seharusnya perbedaan itu adalah bumbu sehingga indah karena berbeda, tapi kadang itu hanya teori saja kenyataannya kalo kita berdua (saya & suami) lagi sama2 emosi & sama2 capek pasti cekcok itu ada, padahal suamiku adalah orang yg sangat2 sabar apalagi aku kebalikannya orang yg sangat2 cerewet….mohon maaf jika tidak berkenan tapi kadang lebih baik kita lihat sekeliling / pengalaman teman2 jangan hanya karena cinta menjadi buta semoga membantu….

    • 13

      kania said,

      aku juga punya kisah kyk gitu coky, pernah terpikir mengakhiri hubungan, tapi dia pernah dibilang kalo aku ninggalin dia, dia lebih baik mati, aga serem dan khawatir gitu jadinya. kira-kira gimana ya?

  9. 14

    Lili said,

    aq juga lgi dkt sm pria pakistan, ketemu saat pergi liburan, bener kata teman2 diatas mereka suka emosi,cemburuan, wataknya keras…..setelah baca ulasan dr teman2 semua kok jahat bgt ya org pakistan aq jadi ragu juga…………

  10. 15

    Siska said,

    cerita kalian sama juga sama aku,,, klo aq mau putusin,mesti ancemannya dia mau mati,,nelpon sambil nangis2,, gag jarang putus nyambung.,, soal baju jg dia yg atur, harus pake baju gamis yg ada cadarnya, ga boleh pake jeans, ga boleh main sm temen cowo, ga boleh upload foto di fb,, bla,,bla,,bla…klo ga nurut dibentak2 pake kata2 kasar, trus ujung2nya minta maaf,tp diulang lg,, capek lah gt terus,, wlpun dlm hati msh sayang, tp apa dikata, smpe kpn kyk gt terus.. informasi kalian semakin memantapkan aq buat ga lg menoleh kblkg… wlpn msh “cinta”, tp kdu diikhlaskan…

  11. 16

    Siska said,

    tapi juga byk temen2 pakistanku yg bilang klo orang2 mereka itu wataknya memang seperti itu..mereka yg tinggal diluar pakistan malah menyarankan buat jgn deket/nikah sm org2 pakistan yg mintanya tinggal sm orang tua mereka dipakistan,,, mereka bilang klo memang aq pgn bahagia, minta org pakistan itu buat tinggal sendiri, atau tinggal diluar pakistan jika memang aq ingin bahagia… stlh dy bilang gt, tambah mikir 1000 kali aq…

  12. 17

    saat ini saya menjalin hubungan dengan pria pakistan lewat fb, kemudaian baru 7 minggu chatting, dia ngajak nikah.waduh…saya jawab terlalu cepat untuk menikah tapi dia bilang dia serius dan berniat datang ke Indonesia.bener juga sih dia otoriter dan keras wataknya, tiap chatting ada aja yang kalimatnya I order u to….., i said u…. ahh…apalagi saya wanita yang banyak kegiatan di luar rumah, nti disana saya hanya ndhekem dirumah aja. gmn nih?dilanjutin atau putusin aja ya?

  13. 18

    Ayka Olive said,

    Astaaagaaa .. Bener bgt smw itu. Aku n si pakistani itu mnjalin hub tiap detik..
    Cemburuan bgt, gag boleh upload foto. Tdi nya aku fkir bguz jg bwt kebaikan aku, gag baik klo foto d publikasikan ke umum. Tp tuk kehidupan stelah pernikahan .. Gag nyangka jg smpe sgitu rumit na. Mikiiir mikiiiirr lagiii laaah.

  14. 19

    shella said,

    memang…org pkistan itu wataknya kras” .sy jg prnh ad relation dg pakstani,belum” ehh.. Pas dia ngjk nikah.. Are you ready to marry me?
    Trus aq jwb.. Tidak mungkin,aq masih 16th.aq akn menikah di usia 25th.
    Dia trus marah” gk karuan..halah gk peduli..walau dia atlet cricket di negaranya.putusin aja
    Saran q mnding sama org eropa aja,kyk jerman.,wuh..cwoknya gk mudah trsinggung,tdk over pro.gk cmburuan..
    Hehe deutschland..


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: