Konflik Menantu Perempuan VS Ibu Mertua

Akhirnya…….????

Dilatarbelakangi (ceile…bahasanya) baca blog teman, curhatan teman, sodara, kenalan dan juga yang tidak kenal tentang konflik antara menantu perempuan vs Ibu mertua. Sejak awal pacaranpun aku agak menjaga jarak dengan orang tua ex pacar (suamiku sekarang) dan sebisa mungkin mengurangi interaksi yang bisa berujung konflik, hal itu juga mendasari aku sejak awal sangat – sangat tidak mau tinggal dirumah mertua (untungnya kerjaanku dan suami di luar kota jadi ada alasan🙂 )

Kini setelah jalan 4 th berumah tangga dengan ex pacar😛 , ternyata yang namanya konflik dengan mertua meskipun sebisa mungkin menghindar dan mengurangi interaksi tetep saja tidak bisa terhindarkan, ada saja yang menjadi bahan mertua buat nyalahin kami, aku yang dasarnya cuek wek wek easy going saja, terserah mau ngomong apa selama tidak menghalangi aku jalan (batu kali…) dan tidak menghalangi aku makan cuek saja😛 . Toh selama ini kami tidak pernah mengganggu kehidupan orangtua, ibarat pepatah jika anak sudah menikah urusan rumah tangga anak jangankan keluarga orangtuapun sudah jadi oranglain. 

Mungkin benar beberapa komen temen biasanya konflik antara menantu perempuan dan ibu mertua didasari oleh rasa cemburu sang Ibu yang merasa tergantikan, dan tentunya hal itu hanya pada beberapa Ibu dengan pikiran sempit saja. Logikanya bagaimanapun juga yang namanya anak laki jika sudah bekerja apalagi sudah berumahtangga kan sudah punya tanggung jawab sendiri terhadap keluarganya apalagi bagi mereka yang tinggal diluar kota. 

Kadang sangat miris mendengar orangtua siapapun itu yang selalu menuntut saat anak lelakinya sudah menikah dan berumah tangga untuk selalu seperti dulu waktu bujang yang mana harus pulang seminggu sekali mendahulukan orangtuanya dll yang kadang permintaannya itu seperti pisau bermata dua antara keluarga si anak & orangtuanya. Karena bagaimanapun sang anak lelaki sudah menjadi kepala keluarga yang punya tanggung jawab terhadap keluarganya dan tidak mungkin selalu menuruti kemauan orangtuanya.

Sampai kadang karena keinginanya sebagai orangtua tidak terpenuhi sampai keluar sumpah serapah terhadap si anak, yang tidak dianggap anaklah, mengungkit2 biaya membesarkan dan mendidik anaklah sangat sangat miris. Padahal anak tersebut adalah anak yang dikandungnya selama sembilan bulan, yang untuk melahirkannya nyawalah taruhannya yang untuk membesarkan dan merawatnya Ibu rela jam tidurnya terganggu kerja keras banting tulang untuk biaya pendidikan anaknya. Rela badannya menjadi jelek agar bisa memberi ASI anaknya, Duh…alangkah sayangnya jika hanya karena kesalahan kecil dan kadang asumsi orangtua sendiri terhadap sang anak, dan mungkin juga gara – gara fitnah dari orang lain tanpa konfirmasi kebenarannya sampai tega mengucapkan sumpah serapahnya, itulah harga dari pengorbanannya dulu hanya sebesar sumpah serapah………..

Bukankah jika dikembalikan lagi memangnya anak2 tersebut meminta dan memilih untuk menjadi anak orangtua tersebut, memangnya anak2 itu dulu meminta dilahirkan dan dididik oleh orangtua yang seperti itu nggak kan……Bukankah anak adalah amanah yang harus dijaga, dididik, didoakan ibarat kertas putih jadi seperti apa anak nantinya tergantung yang mengisi dan menulisi kertas putih tersebut…..

Dan tidak jarang sikap orangtua yang seperti itu didasari oleh kebencian terhadap menantu perempuan yang dianggap telah mengambil dan merebut anaknya sungguh sungguh sangat NAIF…..

NB. Semoga siapapun yang membaca jika kita sudah menjadi orangtua semoga nantinya menjadi orangtua yang bijak yang selalu mendoakan kebaikan dan kesuksesan anaknya ……

2 Responses so far »

  1. 1

    nn said,

    baca artikel ini jadi berkaca sendiri,
    kadang memang sulit untuk dipercaya, tapi nyata adanya.
    saya pun memang tipikal orang cuek, jadi kadang kalo mertua sudah keluar sumpah serapah begitu,, saya diamkan saja dia, biar dia sadar sendiri. kadang mertua yang kolot seperti itu tidak berfikir, seharusnya dia harus lebih menyayangi mantu nya karena mantunya lah yang akan menemani dan menjaga anaknya sampai meninggal. karena mertua sendiri harusnya sadar umur dia itu mungkin tidak akan lama lagi, jadi saya harus menyayangi mantu saya yang akan menjaga anak saya nanti. tapi tidak semua orang itu bisa berfikir bijak seperti itu. malah mereka kemakan emosinya sendiri dan selalu menyalahkan mantu nya walau masalah kecil sekalipun.

    smoga nanti kita memiliki mantu, kita bisa jauh lebih baik dari mertua kita. amien

  2. 2

    anna said,

    banyak mertua yg egois,kolod,kekanakan…ingin sllu diperhatikan,dipedulikan,ditunggui 24jam anak laki2nya…pdhl jg sdh menikah.bahkan berpikir kl menantu org jahat hanya krn menantu ngajak suami keluar rumah satu jam berdua dg suami pdhl cm utk beli makan,maunya kemana2 sllu bertiga.dan suami pun sll lbh memprioritaskan ibunya drpd istrinya.dan istri pun jd kurang diperhatikan dipedulikan.sehingga sering menimbulkan percekcokkan suami istri.kl sprti itu bgaimana?rmh tangga akan hancur bukan krn mslh dr luar tp justru brasal dr dalam yaitu krn mertua.


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: