Bangga karena miskin & susah

Lahir dari keluarga/keturunan miskin, di suatu desa kecil dengan 4 bersaudara, sang ibu buta huruf tak pernah mengenyam pendidikan karena terlahir dari keluarga yang miskin dengan 8 bersaudara yang sejak kecil menjadi anak yatim, sang bapak ijasah SD pun tak punya karena hanya sampai kelas 4 SD. Tanpa keahlian apa yang diharapkan Bapak bekerja sebagai pekerja serabutan yang kadang keluar masuk hutan mencari kayu untuk dijual, tidak jarang pula keluarga kecil dengan 4 orang anak2 yang masih kecil itu bisa makan, jangankan makanan layak makan, bisa makan nasi saja syukur – syukur.

Dari kecil seluruh anggota keluarga bahu – membahu banting tulang demi kelangsungan hidup keluarga dengan ibu berjualan kecil – kecilan yang dipagi & sore harinya dijajakan anak – anak dari pintu ke pintu, disaat teman – teman sebayanya asyik bermain anak2 keluarga ini harus bercapek – capek membantu keluarganya, tidak ada kemewahan, tidak ada bermanja – manja, tidak ada bermalas – malasan, sepulang mengaji masih dijejali dengan setumpuk pekerjaan yang esok harinya harus dikirim ke warung – warung tetangga, ke-4 anaknya sekolah & ketika malam hari adalah waktunya seorang pelajar untuk belajar maka belajar adalah sesuatu yang mahal, karena harus menyelesaikan pekerjaan yang keesokan harinya akan dijual.

Tidak jarang anak2 sering diolok2 teman sebayanya karena kegiatan mereka, namun untungnya prestasi belajar anak2 sangat bagus rangking 1 disekolah tak pernah absen diraihnya sehingga buku2 gratis yang bagi anak2 adalah barang mewah selalu didapatnya dari sang guru karena prestasi belajarnya. Sampai anak2 beranjak besar, sang anak ke – 1 yang lulus SMP dan sempat bekerja di pabrik rokok selama 2 tahun dibawa untuk diasuh & disekolahkan oleh Saudara nya yang tinggal jauh di luar kota. Sang anak ke-2 yang memang minat belajarnya kurang bekerja di pabrik rokok, sang anak ke-3 yang waktu itu masih kelas 3 SD harus menggantikan tugas saudara2 nya untuk membantu pekerjaan orangtuanya untuk menjajakan dagangan orangtuanya, dengan resiko yang sama besar dan bahkan lebih besar karena tidak bisa untuk bergantian dengan adiknya yang selisih usia hampir 3 tahun dengannya.

Sampai beranjak besar yang waktu itu memasuki SMA rutinitas tersebut masih dilakukannya , karena orangtua hanya mampu menyekolahkan sd. SMP hampir putuslah pendidikannya untungnya sang kakak ke-1 yang sudah bekerja setamat SMU, dan karena keinginan & cita2 nya yang sangat besar untuk mengangkat derajat keluarganya. Maka diapun bertekad untuk menyekolahkan adik2 nya sampai dengan kuliah meski akhirnya tidak memperdulikan kebutuhan pribadinya. Sampai fitnah pun diterimanya demi cita – cita mulianya.

Baru setelah kedua adiknya kuliah kakak ke 1 mau menikah & berumah tangga,  sampai adik2nya  tamat kuliah serta mendapat pekerjaan layak. Kini keluarga yang dulunya adalah keluarga termiskin di desa nya kini bisa setara dengan keluarga2 yang lain bahkan lebih mapan. Karena anak2 nya kini sudah mapan. Dan kini baru terasa tempaan kesulitan hidup mulai dari kecil tersebut adalah bekal , warisan orangtuan yang luar biasa yang anak2 keluarga tersebut dapatkan sehingga kini bisa survive di kehidupan yang semakin keras & sulit ini.

*Proudly my beloved parents – sister.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: